Mendorong Infrastruktur, Mengejar Pertumbuhan

Standard

“Lima tahun ke depan menjadi momentum pertaruhan kita sebagai bangsa merdeka. Oleh sebab itu, kerja, kerja, dan kerja adalah yang utama.”

Petikan kalimat tersebut disampaikan dalam pidato perdana Joko Widodo (Jokowi), sesaat setelah dilantik sebagai presiden ke-7 Republik Indonesia bersama dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), pada Senin 20 Oktober 2014 di Kompleks Parlemen, Jakarta.

Ini adalah tahun ketiga ‘kerja’ itu terus berlangsung. Pembangunan tampak nyata hingga ke berbagai penjuru Tanah Air. Presiden dan jajarannya banyak menyapa wilayah-wilayah perbatasan, mendadaninya dengan perbaikan dan pembangunan, hingga memperkuat fasilitas pertahanan.

Lewat sembilan agenda utama yang didengungkan sedari masa kampanye, pemerintahan Jokowi-JK terlihat sibuk. Pembangunan berbagai sektor melaju, meresapi Nawacita ketiga: membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

Delapan agenda lain terus melebur; pemerintah semakin memperkuat jati diri sebagai negara maritim, negara hadir dalam membangun tata kelola pemerintahan, melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum, mewujudkan ‘Indonesia Pintar’, ‘Indonesia Kerja’, dan ‘Indonesia Sejahtera’.

Selain itu, negara mengupayakan peningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional, mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor strategis domestik, melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kurikulum pendidikan, serta memperteguh kebhinnekaan dan memperkuat restorasi sosial melalui kebijakan.

Kerangka sembilan dasar utama pemerintahan yang sibuk tersebut bermuara pada harapan tercapainya pertumbuhan ekonomi masyarakat dan pemerataan pembangunan di berbagai bidang yang didukung fasilitas memadahi. Jurang kemiskinan pun coba dikikis.

Tak lepas dari itu, pembangunan infrastruktur menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Dalam hal ini pemerintah berupaya meningkatkan anggaran infrastruktur. Data Statistik yang ada menunjukkan, sejak 2009-2017 anggaran infrastruktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus menanjak, tercatat di atas 8 persen.

Sumber: Databoks, Katadata Indonesia.

Pada tahun pertama, duet Jokowi-JK berhasil mengerek anggaran infrastruktur hingga 14,2 persen dari Rp177,9 triliun pada 2014 menjadi Rp290,3 triliun di 2015. Angka itu terus tumbuh hingga tahun ini berhasil menganggarkan Rp378,3 triliun.

Pun demikian, proyek infrastruktur terus melaju. Pemerintah dan kepanjangan tangannya berupaya secara merata bekerja sesuai porsi dan peruntukannya. Data Statistik merinci, tahun depan Kabinet Kerja masih digiring untuk menuntaskan kerja pembangunan infrastruktur.

Bahkan, pada data Pagu Indikatif Angaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 mengungkapkan, pemerintahan Jokowi-JK masih menitikberatkan pada pembangunan di sektor infrastruktur dan pertahanan.

Tercatat ada 15 Kementerian dan Lembaga yang anggarannya didominasi pertahanan dan pembangunan infrastruktur.

Sumber: Databoks, Katadata Indonesia.

Selain pengajuan APBN, pemerintah juga menggandeng swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk ikut andil dalam pendanaan berbagai proyek infrastruktur. Secara khusus, pemerintah membentuk skema untuk pembiayaan proyek strategis nasional tanpa APBN berupa Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) maupun Proyek Infrastruktur Non Anggaran (PINA).

Pada Februari 2017, Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro menyampaikan bahwa sejauh ini sudah tersedia rencana induk untuk infrastruktur non-APBN senilai Rp570 triliun. Rinciannya, Rp300 triliun untuk proyek jalan tol, Rp200 triliun untuk kilang minyak, dan Rp70 triliun untuk pembangunan hub pelabuhan.

Sumber: Databoks, Katadata Indonesia.

Sementara itu, Indonesia dalam Angka, ternyata, menunjukkan bahwa wilayah dengan populasi 257,9 juta jiwa per Juni 2016 ini, masuk dalam jajaran negara dengan kontribusi pembangunan infrastruktur terhadap PDB terbesar dunia.

Sumber: Databoks, Katadata Indonesia.

Penjelasan data tersebut berdasarkan atas survei yang dilakukan Arcadis, konsultan bergerak di bidang aset dan pembangunan asal Belanda yang menyebutkan bahwa kontribusi pembangunan aset atas PDB di Indonesia mencapai US$1,2 triliun. Jumlah itu menempatkan Indonesia di posisi enam, mengungguli Jerman yang mencatatkan kontribus US$1 triliun.

Setidaknya, hasil kajian itu memberikan gambaran betapa negara berkembang mengalami pertumbuhan yang baik pascapembangunan infrastruktur. Data terakhir mencatat, ekonomi Indonesia tumbuh 5,01 persen pada triwulan 1 2017. PDB atas dasar harga konstan 2010 pada triwulan I 2017 mencapai Rp2,38 kuadriliun atau Rp2.380 triliun.

Indonesia telah menampakkan hasil dari pembangunannya. Inikah yang diharapkan pemerintah? Masa pemerintahan Jokowi-JK masih lebih dari sejengkal, ah, pembangunan masih panjang.

Advertisements

#MemesonaItu ; Kesadaran Adalah Kunci

Standard

Menjadi pribadi yang ‘sadar’ tidaklah mudah. Kesadaran, apalagi secara tipikal bagi perempuan bisa dibilang hanya separuh saja, sisanya perasaan. Katanya. Begitulah pandangan keseharian yang telah membudaya. Dalam hal ini, saya menyejajarkan kesadaran dengan pikiran. Perempuan banyakan ‘makan ati’, sedikitnya mikir. Katanya lagi.

Kesadaran, menurut saya adalah kunci. Ia yang menjadikan pribadi begitu mengenal diri. Saat kita melakukan kesalahan; menyadari berlaku luput. Apalagi ketika menjalankan hal baik, sangat mungkin dilakukan dengan tingkat sadar yang utuh.

Utuh yang bagaimana? Ya sadar, bahwa aku mencintaimu, misalnya; jadi jatuhnya tidak terbuai rayuan gombal dan masih bisa berpikir kalau mau dikibulin. Atau dengan tenang bisa mongontrol enggak kalap belanja kosmetik sehabis gajian, apalagi gincu dan minyak wangi yang di rumah belum menuju kedaluwarsa. Bisa berpikir bahwa kemauan diri itu ada batasnya. Begitu, bukan? Kalau iya berarti sedang dalam tataran sadar. 😀

Begitu bergunanya memiliki kesadaran. Tampaklah memesona saat pribadi mampu mengendalikan diri. Menerima bahwa diri ini tidak berdaya, pun menyikapi dengan baik ketika jiwa ini begitu bersorak gembira. #MemesonaItu Kesadaran. Dalam situasi apa pun.

Lalu, bagaimana menuju #MemesonaItu ? Setidaknya, mau tidak mau, suka tidak suka harus berani tegas pada diri sendiri. Mau bercermin, menunjuk hidung sendiri. Susah? Memang. Apalagi saat situasinya kita di pihak salah. Jangan-jangan memang terbiasa gengsi mengakui kesalahan? Bisa jadi, sering banget. Tetapi kembali lagi, pribadi yang sadar biasanya yang legawa dan berani bersikap; menilai baik maupun buruk dalam diri. Itu tidak cukup mudah, memang. Ia akan belajar.

Saya mencoba mengurai dari salah satu ungkapan Kartini, tokoh emasipasi; “dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan merasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri.”

Kartini adalah contoh nyata pemilik pesona, Ia menghidupi kesadaran diri. Ia menyadari telah memiliki kelemahan, namun tetap berjiwa besar dan mencoba meraih kebangkitan jiwa. Kartini memegang erat dua sisi hidup, setidaknya Ia nyatakan dengan kalimat “Dari kegelapan menuju cahaya” atau lebih populer “Habis gelap terbitlah terang.” Seolah, Ia mengamini hal-hal baik akan tumbuh meskipun berdampingan dengan hal-hal tak baik. Lagi-lagi, kesadaran ada di situ.

Dalam bait lain tulisan surat kepada sahabatnya, Kartini pun menegaskan, bahwa “Tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan, selain menimbulkan senyum diwajah orang lain, terutama wajah yang kita cintai.” Bukan tidak mungkin, bahwa senyum itu bagian dari kesadaran(nya).

Lagi-lagi, kesadaran itu kunci. Terlebih saat kita terpuruk, bersedih, dan melakukan kesalahan. Energi diri seringkali akan terseret, terkikis, membuat lunglai. Dalam keseharaian: pekerjaan akan berantakan, rumah belepotan, hati bisa amburadul.

Di sinilah, -menurut banyak sumber dari obrolan dan bacaan- kesadaran meski itu kecil, akan menyelamatkan. Bagaimana kesadaran bisa hadir? Perlu upaya untuk menumbuhkannya. Hal paling sederhana bisa dimulai dengan ‘melihat’ napas kita. Saat kita tahu bahwa kita masih bernapas, merasakannya, saat itu juga kesadaran muncul. Lihat dan menenangkan.

Bagaimanapun juga, dalam kondisi sulit, menumbuhkan kesadaran juga tidak mudah. Saya pun demikian. Alhasil, pemilik kesadaran, bagi saya, adalah pribadi luar biasa. Ia yang tangguh dan diam-diam membuat terpikat. Bagi pemilik kesadaran, #MemesonaItu memancar dari dalam diri.