‘Lahan Basah’ di Tanah Kering: Tentang Tembakau Rembang

Gallery

Terik matahari begitu menyengat ketika menyusuri ladang hijau di Selopuro, Kecamatan Lasem, wilayah perbukitan kapur utara, Rembang, Jawa Tengah. Rasa yang hampir sama juga begitu kuat ketika melintasi pematang lain di wilayah kecamatan Gunem dan Sulang di kabupaten setempat.

Hamparan tanaman tembakau tampak sejauh mata memandangi tanah berbedu putih di sepanjang jalan perbukitan. Tanah kering di musim kemarau yang dulunya hanya menjadi tadah hujan pascapanen padi, kini mulai menghijau menghidupi tanaman tembakau, mengangkat perekonomian petani.

Pertanian tembakau kemitraan di Rembang.

Pertanian tembakau kemitraan di Rembang.

Setidaknya, sejak lima tahun belakangan semakin banyak tanah-tanah kering sehabis musim penghujan tidak menganggur lagi. Tak juga menjadi sawah tadah hujan, pun menjadi ladang kritis. Tanah-tanah kering itu menjanjikan lahan basah penyetak uang di separuh musim tanam.

“Tadinya tanah kara-kentang ,setelah musim tanam padi, lahan tidur, tanah kritis. Sekarang kemarau pilih tanam tembakau ada hasilnya, pemasarannya jelas,” ujar Winarso, petani Desa Selopuro, akhir pekan lalu, Sabtu (22/8).

Lahan kering di Rembang bukan berarti tidak bisa dimanfaatkan tanaman lain, hanya saja hasilnya berbeda. Tentu saja produktivitas dengan hasil penjualan yang pasti kini menjadi menjadi pilihan petani.

“Yang tidak berani spekulasi biasanya pilih tanam palawija, hasilnya gambling, kalau nekat tanam padi ya bisa, untung-untungan saja. Kalau ada hujan ya berhasil, kalau tidak hujan, ya puso, ” lanjutnya.

Petani tanaman pangan dan palawija di sebagian wilayah Rembang pada umumnya memanfaatkan lahan tadah hujan untuk mempersiapkan musim tanam berikutnya. “Lahan padi tadah hujan hasilnya tidak maksimal. Justru untuk tanam tembakau, maksimal.”

Pak Winarso, petani tembakau kemitraan yang mencecap untungnya menanam tembakau di ladang tadah hujan.

Pak Winarso, petani tembakau kemitraan yang mencecap untungnya menanam tembakau di ladang tadah hujan.

Sebagai gambaran, sejak 2012 Winarso mulai memanfaatkan 1 hektare (ha) lahan di musim kemarau untuk budi dayatembakau, kini ia telah menggunakan 3,5 ha lahan untuk memperluas pertanian bahan baku rokok tersebut. Penghasilan semusim dari hanya Rp15-Rp20 juta menjadi Rp40-50juta.

Di wilayah Selopuro, lima tahun lalu, petani tembakau hanya 6 orang dengan total luas lahan 8 ha, kini hasil menggiurkan dari pertanian tembakau telah menambah luas lahan tanam menjadi 25 ha dikelola puluhan petani secara berkelompok.

Dalam sekali periode tanam April-Mei untuk masa panen September-Oktober, petani tembakau Selopuro memperkirakan biaya produksi Rp20 juta-Rp25 juta/ha dengan total omzet hingga Rp70 juta/ha. Dalam sekali panen bisa memetik daun 5 hingga 7 kali.

Tak berbeda jauh, di lereng perbukitan karst daerah Rukem, Kecamatan Sulang, Solikhul Huda sesepuh petani mengungkapkan tanah perbukitan yang dulunya gersang kini sudah menghijau saat kemarau. Tercatat ada 77 kelompok tani dengan anggota 2-3 orang mengelola 110 ha lahan tembakau.

Kemitraan

Menurut Sholikul, serapan panen tembakau sudah jelas karena dirintis melalui program kemitraan dengan PT Sadhana Arifnusa, pemasok PT HM Sampoerna. Areal lahan 1 ha ditanami 30.000 tanaman tembakau dengan volume produksi 2-2,5 ton/ha. Jika cuaca mendukung bisa tembus 3 ton/ha.

“Awalnya hanya sekitar 20 ha, sekarang 110 ha ada yang milik sendiri tapi ada yang sewa Rp3-Rp4 juta per musim. Hasil penjualan sudah dikurangi biaya produksi dan tenaga bisa capai Rp60 juta-Rp70 juta, tinggal dibagi kelompok ada 3-4 orang,” jelasnya.

Proses merajang tembakau sekarang sudah mudah, pakai mesin, lebih cepat lebih tipis.

Proses merajang tembakau sekarang sudah mudah, pakai mesin, lebih cepat lebih tipis.

Rerata produksi tembakau di Rembang mencapai 6.000 ton/musim dengan harga jual menyesuaikan kualitas antara Rp20.000–Rp30.000 per kilogram, atau berdasarkan kualitasnya, tembakau kering di Rembang terserap dengan harga rerata Rp27.000/kg.

Dalam proses kemitraan dengan PT Sadhana Arifnusa, semua sarana dan prasarana produksi (saprodi) disiapkan perusahaan, sementara semua hasilnya diserap Sadhana untuk disalurkan ke Sampoerna.

“Tidak ada bagi hasil. Petani mengerjakan sendiri setelah diberi saprodi, hasil panen tidak memilih klasifikasi kelas, semua diserap tetapi harga menyesuaikan kualitas. Istilahnya Sadhana menyiapkan saprodi, lalu mendapatkan produk,” kata Suharto, pengelola kemitraan Sadhana Arifnusa Rembang.

Kini, Sadhana yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia, telah bermitra dengan tak kurang dari 3500 petani tembakau Rembang yang menyebar di 102 desa dengan wilayah sentra di Kecamatan Sulang dan Kecamatan Sumber.

AMTI selanjutnya mendorong petani tembakau setempat untuk bermitra pabrikan sebagai upaya optimalisasi produksi pertanian dan mempermudah akses pasar. Program kemitraan telah dilakukan melalui sistem produksi terintegrasi (integrated production system/IPS).

Ketua AMTI Budidoyo menyatakan tanaman tembakau bisa menjadi alternatif olahan petani menghadapi musim kemarau, saat tanaman pangan dan palawija kurang mampu dibudidayakan secara optimal.

“Program kemitraan pada dasarnya juga meningkatkan kualitas tembakau karena ada pendampingan dan edukasi bercocok tanam. Akses pasar dijamin pemasok, ketika kualitas tembakau baik maka pabrikan senang dan tembakauterserap maksimal,” jelasnya.

Pertanian tembakau Rembang.

Pertanian tembakau Rembang.

Pihak pabrikan, PT HM Sampoerna pun tidak menampik, hasil dari kemitraan pertanian tembakau memberikan kemudahan untuk memasok bahan baku.

Manager Divisi Agronomi Sampoerna Bakti Kurniawan mengatakan pertanian kemitraan perlu dibarengi dengan keterampilan dalam bercocok tanam sehingga menghasilkan produk yang berkualitas dan sesuai kebutuhan pabrik.

“Pada prinsipnya, untuk perluasan kemitraan dan penambahan lahan tanam kami akan kaji kembali, perlu melihat kemampuan petani dan menyesuaikan wilayah.”

Link resmi ada di siniPertanian Tembakau Kemitraan [Bisnis Indonesia, 28 Agustus 2015]

Kembali lagi, bahwa pertanian tembakau di sawah kering itu kini tidak hanya dipandang sebagai lahan basah kaum petani, namun juga ladang empuk pabrikan, peluang bagi pemasok bahan baku industri rokok.

Siapa tahu ada yang mau mampir ke sini:  Sukoharjo, Berawal dari Solo Baru

Advertisements

One response »

  1. Pingback: Lewat Demak, Singgah di Masjid Agung & Makan Garang Asem | tulisanina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s