ini KATAKATA CERITA

Merawat Kehangatan Bapak

“Ora, aku ora papa [apa].” 

Hampir selalu bapak ngendika seperti itu kepadaku dan kekak-kakakku, ketika menanyakan kesehatannya yang mulai menurun pada tahun ini.

Bapakku sudah sepuh, usianya 77 tahun. Pertengahan tahun lalu baru mengaku mata kirinya sudah tidak bisa melihat. Tahun ini kesehatan paru-parunya terganggu. Cuaca dingin di rumah, Desa Ngablak, Magelang, kadang kurang bersahabat dengan kondisinya.

Bapak, saat singgah di Semarang pertengahan Juli 2015. Menyegarkan diri dengan berjemur sambil membaca. (nina)
Bapak, saat singgah di Semarang pertengahan Juli 2015. Menyegarkan diri dengan berjemur sambil membaca. (nina)

Bapak tinggal di Ngablak, berada di daerah sebelah barat lereng Gunung Merbabu. Katanya menjadi daerah paling tinggi di antara tempat lainnya yang berada sepanjang jalan raya Magelang-Salatiga.

Dari depan rumahku bisa melihat kekarnya punggung Gunung Telomoyo dan mengintip muka Gunung Andong.

Telomoyo..aku membayangkannya seoerti gajah tidur meletakkan belalainya.
Telomoyo..aku membayangkannya seperti gajah tidur meletakkan belalainya.
Gunung Andong yang hanya terlihat kepalanya. (nina)
Gunung Andong yang hanya terlihat kepalanya. (nina)

Ternyata, pada saat saat tertentu, usia senja bapak tidak cukup mampu menopang hempasan angin gunung. Kesehatannya terus menurun. Pun demikian, entah sudah berapa lama beliau mencoba menyembunyikan kelemahan tubuhnya, pada saluran nafasnya. Hingga jeda setiap kata menceritakan semua. Nafasnya sesak, dadanya naik turun, suaranya lirih.

Lagi-lagi, bapak merasa tidak apa-apa. Ia masih mencoba menenangkan keluarga dengan bilang ‘aku ora apa-apa.”

Tetapi kulit keriput yang membungkus tulangnya seolah tidak bekerja sama. Fisiknya tidak bisa menipu, tubuhnya tidak sehat, tak baik-baik saja. Kulitnya semakin kisut menguras daging di badannya.

Bapakku jarang mengeluh, seringkali pintar menyembunyikan gelisah, tidak enggan menikmati kesakitan dan kesusahannya.

Hingga suatu ketika, pertahanannya runtuh. Bapak mengakui tubuhnya lemah. Lega mendengarnya, karena bisa leluasa menemaninya berobat, memeriksakan kesehatannya ke dokter, dan menjaganya dengan baik. Mengupayakan yang terbaik untuk menyehatkan beliau.

jelang malam takbir, dalam perjalanan pulang ke Ngablak setelah tiga malam di Semarang.
jelang malam takbir, dalam perjalanan pulang ke Ngablak setelah tiga malam di Semarang.

Bapakku adalah cerminanku. Ia keras kepala. Ngeyel. Menyembunyikan kegelisahan. Menahan sakit dan mencoba baik-baik saja. Dari ingatan laluku atas bayangan matanya yang tajam, aku mengingat sosok pemberani. Itu sedikit kumiliki.

Saat ini, tubuh rentanya sudah cukup lemah. Keberaniannya tidak kuat menahan terpaan angin lembab dataran tinggi. Suatu hari di bulan ramadan lalu ia berucap: ‘Nek aku ninggone Nina, ngerepoti ora ya?’ 

Kalimatnya bergetar mengikuti gerak tubuhnya yang menahan hawa dingin Ngablak. Ibuku menelponku, menyampaikan keinginan bapak. Aku menyambutnya gembira.

Esok hari, aku dan suamiku menuju Ngablak. Kami dari Yogya dan akan kembali ke Semarang, lewat desa yang kupikir memiliki sejuta pesona hehe. Ketika kami sampai rumah, bapak masih meringkuk di bawah tebalnya selimut. Ia menghalau dingin yang menusuk tulang di kala siang.

Kami memboyongnya ke Semarang, bermalam tiga hari dan kembali saat malam takbiran. Sepekan sebelumnya, karena kondisinya yang lemah, beliau sempat diungsikan ke rumah bulik di Magelang, daerah yang lebih hangat.

Aku berharap, tinggal bersamaku di Semarang akan memberinya kehangatan. Hangat bagi tubuhnya, hangat bagi batinnya. Benar, ia tampak lebih sehat, tanpa jaket dan selimut tebal. Menikmati pagi hari dengan jalan-jalan dan menyambut sinar matahari dengan membaca buku.

Bersyukurnya aku bisa menemani bapakku dalam masa payah tubuhnya.

Aku mengasihimu, Pak,
Aku begitu ingin…
Seperti Ibu yang setia menjaga di sampingmu,
Seperti ibu yang selalu terjaga untuk menenangkanmu,
Seperti ibu yang tanpa lelah mendoakanmu,
Ibu yang merajut di saat hatinya gundah, menunjukkan kekuatan di balik sedihnya

Aku ingin
Seperti engkau yang selalu memberiku kehangatan dari dadamu saat masa kecilku,
Seperti kasih Ibu, aku akan terus merawat kehangatanmu itu.

:)
🙂

Kagem bapak, mugi pinaringan sih tresna dalem Gusti. Dipun paringi kasarasan lan katentreman lahir batin. Aamiin.

I Love You Daddy

Putra tresna, 
Nina

29 Oktober 2012
29 Oktober 2012
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s