ini TENTANG SESEORANG

GKR Hemas, berpolitik dalam keberagaman*

Gusti Kanjeng Ratu Hemas menunjukkan buku berjudul ”Ratu di Hati Rakyat”, Rabu (31/10/2012). Foto: Desi Suryanto
Gusti Kanjeng Ratu Hemas menunjukkan buku berjudul ”Ratu di Hati Rakyat”, Rabu (31/10/2012). Foto: Desi Suryanto

Sebagai permasuri raja Ngayogyakarta Hadiningrat, penampilannya begitu luwes, pemikiran maju dan modern.

Bernama asli Tatiek Drajad Suprihastuti, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas lahir di Jakarta pada 31 Oktober 1952 dari pasangan Kolonel (pur) Radin Subanadigda Sastrapranata dan Susantilah Supono.

Sebagai putri seorang militer dan anak perempuan satu-satunya dalam keluarga secara langsung turut mempengaruhinya dalam pembentukan sikapnya. Watak yang tegas, disiplin dan blak-blakan menjadi karakter kuat pada dirinya.

Ia identik dengan Yogyakartaa, namun sejatinya ia dibesarkan di Ibu Kota dan kini kesehariannya pun juga lebih banyak dihabiskan di Jakarta.

Tugas sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memberinya mandat untuk memperjuangkan aspirasi seluruh masyarakat Indonesia khususya bagi kaum perempuan.

Selain sebagai tokoh kebudayaan dan aktivis perempuan, GKR Hemas adalah juga tokoh politik. Karir politiknya saat ini adalah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) periode 2009-2014. Bersama wakil ketua lainnya, Laode Ida, ia mendampingi Ketua DPD RI, Irman Gusman.

“Sekarang ini menjadi tugas periode kedua saya di DPD RI. Tentunya banyak tekad dan harapan yang ingin dicapai, khususnya demi kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat dan daerah,” ucapnya ketika ditemui di kediamannya, Februari 2011.

Pengabdian dirinya di dewan dilakukannya dengan sungguh-sungguh demi turut mendorong penguatan kewenangan DPD dan membangun sistem ketatanegaraan negeri yang lebih baik.

GKR Hemas kini mengoordinasi bidang II yang terdiri dari Komite II, Komite IV, Panitia Urusan Rumah Tangga (PURT), Panitia Akuntabilitas Publik (PAP) dan Badan Kehormatan (BK).

Ia mengatakan, salah satu tujuan berkiprah di ranah politik dengan menjadi Anggota DPD RI sejak 2004 yakni dengan harapan besar agar lembaga tersebut mampu menjadi penyeimbang DPR.

“Dengan demikian aspirasi dan kesejahteraan khususnya masyarakat marjinal, seperti perempuan dan anak-anak yang agak kurang diperhatikan, dapat dikanalisasi secara konkret dalam kebijakan undang-undang,” tegasnya.

Agen Perubahan

Menjadi pendamping Sri Sultan HB X dengan budaya dan tradisi kraton yang saklek ternyata tidak membelenggu GKR Hemas untuk berpikir maju dan memajukan bangsa. Ia tampil ke kancah politik dengan harapan besar untuk pemberdayaan kaum perempuan dan anak-anak.

Dikatakannya, hingga kini masih banyak hambatan untuk memperjuangkan kesetaraan gender karena benturan pada budaya patriarki yang bersifat turun-temurun dalam masyarakat.

Keterwakilan perempuan di bidang politik menurutnya harus bisa mempengaruhi proses demokratisasi dengan nilai-nilai kesetaraan dan keadilan.

Perempuan harus menjadi agen perubahan dalam segala lini.”Perempuan harus bisa mendobrak kuatnya budaya patriarki yang bersifat turun-temurun di masyarakat.”

Budaya dan tradisi yang mengutamakan kaum pria diakuinya juga menjadi bagian dalam kraton. Namun demikian ia mampu memosisikan diri dalam sebagai salah satu penerus dan pengemban tradisi budaya, disisi lain ia mampu melakukan sesuatu di luar kraton untuk berbuat sesuai kebutuhan masyarakat.

Pemahaman beliau dalam menyeimbangkan tradisi dan kemajuan jaman itulah yang juga ditularkan kepada lima putri-putrinya. Ia mengaku sebagai penerus generasi mendatang, putri-putri yang dibesarkan di lingkungan kraton perlu mengetahui budaya dan tradisi leluhur, disamping itu mereka juga harus beremansipasi dan berkegiatan dalam masyarakat.

Lulusan Teknik Arsitek jurusan Arsitektur Pertamanan Universitas Trisakti Jakarta tersebut menegaskan bahwa kaum perempuan harus mampu mengejar ketertinggalan pengalaman dan ketrampilan di berbagai bidang. Peningkatan kualitas diri dan memperluas jaringan komunikasi menjadi salah satu cara yang perlu dilakukan.

Beberapa titik perhatian yang bisa menjadi strategi untuk melakukan perubahan, menurut Hemas diantaranya bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi kerakyatan, penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta meningkatkan keterwakilan perempuan dalam bidang politik dan pengambil keputusan.

Kapal politik lewat kuota 30 persen kursi bagi perempuan kini benar-benar membuka kran yang lebih besar baginya untuk partisipasi secara langsung bagi perempuan dan anak-anak.

*Dimuat Harian Jogja Maret 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s