Candi Sukuh, Sejarah Peradaban Hindu ke Islam

Gallery
Perjalanan singkat bareng teman-teman jurnalis seni-budaya Yogyakarta, mampir di Candu Sukuh, akhir 2011. Foto: Dok Fira

Perjalanan singkat bareng teman-teman jurnalis seni-budaya Yogyakarta, mampir di Candu Sukuh, akhir 2011. Foto: Dok Fira

Candi Sukuh di Desa Mberjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah berdiri pada abad ke-15 tetapi. Candi tidak dibangun oleh para petinggi kerajaan seperti candi Hindu yang lain. Pembangunan candi dilakukan masyarakat pinggiran pelarian Majapahit yang menghindari pasukan Demak Bintoro.

Candi Sukuh: Saksi Kejayaan Hindu di Jawa

Alasan itulah yang bisa menjawab mengapa bentuk candi lebih banyak berupa punden berundak, dengan keunikan-keunikan arca yang berbeda dengan candi-candi pada umumnya.

Bentuk itu menandai akulturasi budaya Hindu yang dibawa orang-orang Majapahit dengan kepercayaan masyarakat Jawa pinggiran yang masih menyembah arwah nenek moyang.

 

Salah satu relief di sisi kanan candi pada undakan kedua

Maka, tidak berlebihan jika candi Sukuh dikatakan sebagai monumen sejarah perubahan peradaban dari agama Hindu ke Islam di Jawa. Bisa dikatakan candi ini merupakan bangunan terakhir dalam era peradaban candi-candi.

Ada tiga undakan candi. Sisi kanan dan kiri gapura atau candi pertama terpahat relief yang menggambarkan seorang yang tengah berlari dengan menggigit ekor ular naga yang sedang melingkar. Di atasnya terdapat relief makhluk mirip manusia tengah sedang melayang dan relief seekor binatang melata.

Bentuk candi lebih banyak berupa punden berundak

Bentuk candi lebih banyak berupa punden berundak

Undakan kedua sudah tidak utuh, candi dulunya berbentuk gapura bentar. Sisi kanan dan kiri gapura atau candi terpahat relief makhluk mirip manusia melayang dan relief binatang melata

Undakan kedua sudah tidak utuh, candi dulunya berbentuk gapura bentar. Sisi kanan dan kiri gapura atau candi terpahat relief makhluk mirip manusia melayang dan relief binatang melata

Dalam penjelasan arkeologi, arkeolog KC Cruq menyebut relief itu sebagai sengkalan atau simbol tahun pembuatan. Relief konon dibaca gapura buto aban wong (gapura raksasa memakan manusia).

Gapura dengan karakter 9, buta karakternya 5, mangan karakter 3, dan wong mempunyai karakter 1. Candra sengkala dibaca 1359 Saka atau tahun 1437 M, menandai selesainya pembangunan gapura pertama ini.

Sisi selatan gapura terdapat relief raksasa yang berlari sambil menggigit ekor ular. Relief ini juga sebuah sangkalan rumit yang bisa dibaca ‘Gapura buta anahut buntut’ berarti gapura raksasa menggigit ekor ular, yang bisa di baca tahun 1359. Angka itu seperti tahun pada sisi utara gapura.

Diatas candi yang berpagar biru didalamnya terdapat relief Lingga-Yoni lambang kesuburan manusia

Istimewanya lagi, di lantai gapura terdapat paduan lingga-yoni dalam bentuk nyata. Gambaran vagina dan penis ini diduga sebagai lambang kesuburan. Relief lingga-yoni menandakan Dewa Syiwa dengan istrinya bernama Parwati.

Advertisements

One response »

  1. Pingback: Candi Sukuh, Saksi Akhir Kejayaan Hindu di Jawa | tulisanina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s