Stanislaus Sunardi Mengagumi Rendra

Gallery

Dalam dunia sastra Stanislaus Sunardi atau St. Sunardi cukup mengagumi Rendra, sastrawan besar yang menggigit dalam kritik sosial dan politik.

“Rendra adalah sastrawan hebat bukan karena bahasanya tetapi karena ia angkat bicara disaat seseorang yang punya hati nurani harus bicara. Ketika orang takut bicara dia berani bicara,” ucapnya saat berbincang dalam suatu sesi wawancara.

Selain itu ia juga mengagumi Nietzsche yang menggarisbawahi pentingnya bahasa dalam menciptakan realitas. Baginya yang mengagumi Nietzsche, bahasa tidak hanya mengungkapkan hati nurani tetapi lebih dari itu secara tidak langsung telah menariknya untuk masuk ke kajian sastra, merenungkan kedasyaratan bahasa dan bermain kata-kata.

Nietzsche, salah satu buku yang ditulis St. Sunardi

Nietzsche, salah satu buku yang ditulis St. Sunardi

Keluarga menjadi bagian penting bagi Sunardi. Ia mengakui hidupnya berusaha dibuat se-rileks mungkin. Selain meluangkan waktu untuk istirahat siang, ia berusaha menyempatkan diri menjemput putrinya ketika pulang sekolah.

“Siang hari saya sempatkan tidur karena malamnya saya harus membaca dan menulis,” ucapnya.

St Sunardi Berpetualang dalam Sastra & Budaya

Hari-hari bersama keluarga dikatakannya sebagai proses belajar. Ia menyadari bahwa cara hidupnya ketika anak-anak berbeda dengan cara yang diterima putrinya. Seringkali, katanya, ketika sedang menulis, ia selipkan obrolan kepada Sara dengan bahasa pemahaman misalnya mengenai bencana banjir, konversi minyak tanah-gas, seni, politk dan lainnya.

“Dalam obrolan ringan itu kadang muncul pertanyaan menarik. Cara itu secara tidak langsung mendorongnya untuk memberi kritik dan tidak takut berpendapat. Saya pikir hal ini penting bagi perkembangan anak,” papar suami Maria Bernadette Damairia Pakpahan ini.

Menyoal perkembangan akademis anaknya, Sunardi mengaku tidak terlalu memaksakan. Ia mengaku putrinya sempat mengalami keterlambatan pemahaman menulis dan membaca ketika masuk SD karena memang ketika TK tidak dipaksa untuk belajar menulis dan membaca.

Baginya, memberi kebebasan kepada anak untuk bermain itu perlu diperhatikan daripada tuntutan orang tua atas kurikulum sekolah. Baginya, menuntut ilmu itu penting tetapi kekuatan mental itu juga penting untuk dibangun. “Saya sedih kalau melihat anak saya stres mau ujian evaluasi, sepertinya sekolah itu momok bagi dia,” ujarnya.

St Sunardi Tentang Ilmu Religi & Budaya

Bersama dengan putrinya, hampir setiap minggu sekali Sunardi menyempatkan naik gunung merapi. “Dulu saya suka mendaki gunung bersama romo Banar, sekarang dengan anak saya meski jalan yang ditempuh tidak terjal. Itu menjadi rekreasi yang sehat, murah dan segar,” tutupnya.

Advertisements

2 responses »

  1. Pingback: St. Sunardi | tulisanina

  2. Pingback: St. Sunardi, Berpetualang dalam Sastra & Budaya | tulisanina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s