tradisi SYAWALAN sebagai akulturasi budaya

Gallery

Syawal merupakan bulan kesepuluh dalam penghitungan bulan Jawa. Kini tradisi syawalan pada bulan itu melebur dengan kebudayaan Islam, Hari raya Idulfitri.

Setiap tahun masyarakat akan menyatu dalam budaya Islam yang telah begitu membudaya di Indonesia, Idulfitri. Hari raya keagamaan Idulfitri yang jatuh setiap 1 Syawal adalah hari raya kemenangan umat Islam menurut penghitungan tahun Hijriyah.

Tradisi syawalan berangkat dari budaya agama yang kemudian membadan dalam masyarakat. Tradisi ini, kini milik masyarakat umum dengan tidak meninggalkan sisi ritual keagamaan Islam.

Menurut Lono Lastoro Simatupang, Antropolog dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, syawalan merupakan bukti bagaimana agama telah dilokalkan. Dalam hal ini penyatuan ajaran agama dengan tradisi (Jawa).

“Syawalan adalah salah satu bukti sinkretisme,” ujarnya saat berbincang dengan Harian Jogja (23/9/2009).

Jika mengingat tentang bagaimana penyebaran agama islam ke berbagai daerah di Nusantara, budaya islam yang masuk ke masyarakat disebarkan dengan akomodasi kebudayaan setempat.

METOAN, salah satu tradisi syawalan di Dusun Merapi Sari, Kecamatan Ngablak, Kabulaten Magelang. Warga setempat baik yang muslim maupun nonmuslim berkumpul membawa 'uba rampe' untuk didoakan. (nina)

METOAN, salah satu tradisi syawalan di Dusun Merapi Sari, Kecamatan Ngablak, Kabulaten Magelang. Warga setempat baik yang muslim maupun nonmuslim berkumpul membawa ‘uba rampe’ untuk didoakan. (nina)

Berdasar hal tersebut, syawalan dapat dilihat sebagai salah satu bentuk pelokalan budaya. Budaya agama yang tidak serta merta diterima dan dilaksanakan pada masyarakat tertentu, namun lebih lanjut, budaya tersebut disesuaikan dengan tradisi setempat. Cara tersebut sangatlah wajar terjadi di masyarakat.

Sebenarnya, syawalan adalah bagian dari leburnya tradisi agama ke dalam budaya setempat. Lono menyatakan tradisi syawalan yang hingga kini masih berjalan merupakan salah satu keberhasilan penyatuan agama dengan budaya.

“Ini bukti bertahannya budaya leluhur,” terangnya.

Budaya leluhur memang erat terkait dengan tradisi syawalan. Jika menyimak, kini syawalan menjadi media berkumpulnya keluarga, trah dengan kesamaan klan, marga dalam waktu dan tempat tertentu.

Syawalan kemudian membudaya dan berkembang menjadi tradisi berkumpul bersama, silaturahmi suatu kelompok paguyuban tertentu.

Hal positif yang nampak dari budaya syawalan adalah berkumpulnya orang-orang dengan tidak memandang latar belakang agama, kelompok, atau ras tertentu. Lono mengungkapkan, Syawalan menjadi media berkumpul masyarakat dengan dasar leluhur.

“Menjadi bukti nyata bahwa Syawalan adalah bentuk survival masyarakat dari leluhur,” tegasnya.

Budaya silaturahmi dalam balutan syawalan sebenarnya telah ada sebelum adanya agama-agama di dunia. Yang menjadi pembeda, kini tradisi ini lebih menyebar ke segala lapisan masyarakat, bukan hanya kelompok tertentu dengan kesamaan budaya dan leluhur.

Disampakaian Lono, syawalan merupakan bagian dari perubahan cara hidup masyarakat. Perubahan tersebut antara lain nampak pada sebagian masyarakat yang bekerja di luar daerahnya,

“Mereka mempunyai kebutuhan untuk menyatukan diri dengan leluhur,” katanya. Syawalan kemudian menjadi saat yang tepat untuk mengaktualisasi kebutuhan itu.

Melihat tradisi Syawalan kini, Lono berpendapat, dalam konteks sekarang, syawalan menjadi tradisi lintas agama. Orang berkumpul dengan tidak memedulikan kesamaan keyakinan bahkan kesamaan leluhur.

Yang jelas, syawalan menjadi ajang berkumpulnya kelompok tertentu dalam waktu tertentu di bulan Syawal. Seringkali syawalan disebut sebagai saat untuk Halal bil Halal, saat menyucikan diri dan memaafkan sesama.

Padaintinya, budaya Syawalan tidak mengalami perubahan dan pergeseran budaya yang mendasar dari jaman dahulu hingga sekarang. Yang terjadi, budaya Syawalan semakin dikenal dan menyebar ke seluruh lapisan masyarakat mengikuti perubahan cara hidup masyarakatnya.

“Saat yang pas untuk berkumpul keluarga di kampung halaman,” terang Tri Lestari, warga Magelang yang sejak 25 tahun tinggal di jakarta. Jawaban itu berlaku bagi kebanyakan masyarakat yang merantau. Secara psikologis, Syawalan akan dimaknai lebih dari sekedar ajang kumpul bersama. Lebih dari itu, syawalan memiliki makna yang dalam, silaturahim saling maaf memaafkan.

Pamuji Tri Nastiti/HARIAN JOGJA

*ditulis untuk materi liputan khusus Harian Jogja, Lebaran 2009*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s